Nama gue Yahya Muhaimin tapi elo bisa manggil gue mamon. gue lahir 19 tahun yang lalu, di sebuah kampung yang bahkan namanya gak ada di peta Indonesia. Gue pernah coba cari di google map dan ternyata juga gak ada. Nama kampung gue Sri Wangi, gue tau lo pasti bayangin gue lahir dalam kotak teh. Gue gak sehina itu.
Gue
seorang Mahasiswa Pendidikan Biologi di salah satu Universitas Negeri di
Pontianak. Gak perlu gue sebutin juga lo pasti tahu, soalnya di Pontianak
universitas negerinya Cuma satu.Tragis.
Kuliah
di Pendidikan Biologi sebenarnya bukan cita-cita gue. Saat kecil gue sempat bercita-cita jadi bidan. Kita
hanya bisa berkehendak dan Tuhanlah yang menentukan. Lulus SMA gue sadar akademi kebidanan hanya untuk cewek, artinya
gue gak bisa jadi bidan. Cita-cita gue kandas, gue hampir frustasi. Sempat gue berpikir buat operasi kelamin, tapi
menurut nenek gue biaya operasi kelamin sangat mahal, gue tahu penghasilan
bokap sebagai PNS Cuma cukup buat makan. Kalau harus jual diri gue gak akan bisa.
Soalnya harga diri gue terlalu mahal untuk dijual. Hanya artis sekelas Ketti
Peri dan Paris Hilten yang mampu beli gue, itupun dengan uang muka yang udah di
subsidi 30% dan cicilan selama 1000 bulan. Gue tambah frustasi.
Setelah
dapat penawar dari dukun langganan
nenek gue, akhirnya gue dapat menerima kenyataan. Kenyataan bahwa gue emang
telalu mahal buat jual diri, ups.
Gue
sendiri bingung kenapa gue terjebak di jurusan yang gak pernah gue cita-citain
ini. Gue coba memutar kembali memori ke masa lalu, soalnya gue selalu ingat
bahwa apa yang kita lakukan di masa lalu berdampak bagi apa yang kita alami
sekarang. Jelas-jelas dulu guru fisika gue pernah nasehatin gue buat gak ngambil
jurusan biologi karena jadi mahasiswa biologi akan sangat melelahkan. Seperti
yang gue alami sekarang.
Ingatan
gue kembali ke 4 tahun yang lalu, saat gue masih kelas 1 SMA. Gue ingat itu
hari pertama masuk sekolah, hari saat gue masih ganteng. Bukan berarti sekarang
gue gak ganteng. Maksud gue dulu gue ganteng dan sekarang sangat ganteng.
Hari
itu wali kelas gue masuk ke kelas buat kenalan dengan calon murid-muridnya
selama setahun yang akan datang. Wali kelas gue ini kabarnya terkenal killer di
sekolah. Sebut saja namanya Pak Joko. Usianya sekitar 40 tahun, tinggi 165 cm,
36b. Nahlo.
“Yahya
Muhaimin!,” pekiknya menyebut nama gue.
“Saya
pak,” gue refleks ngangkat dua tangan.
“Saya
sedang ngabsen, bukan sedang grebek. Turunin tangan kamu!,” Pak Joko mandangin
gue dengan tatapan yang tajam. Jantung gue berdegub tak menentu, nang neng nong
nang neng nong.
“Kamu
asalnya darimana?,”
“Dari
sini pak,”
“Maksud
saya alamat rumah kamu,” Pak Joko mulai emosi. Wajahnya mulai merah merona. Sorry
gue gak pandai milih diksi yang tepat buat ekspresi marah ini.
“Saya
tak punya rumah,” Gue jawab seadanya
“Maksud
kamu Gelandangan? Atau tinggal di panti asuhan?,”
“Saya
tingal di rumah bapak saya pak. Saya belum mampu beli rumah sendiri,”. Seisi
kelas tertawa terhabak-habak. (FYI: Terhabak-habak tingkat ketawanya dua kali
lipat Terbahak-bahak). Air muka pak joko yang mulai tenang kembali berubah.
“iya
alamat bapak kamu deh,” Pak joko mencoba menenangkan diri. Gue jawab pertanyaan
itu dengan serius. Gue beritahu jalan dan gang gue, RT dan RW gue, nomor rumah
gue,warna rumah gue,harga rumah gue, bahkan
lebar rumah gue dan tanahnya. Pak Joko kemudian bingung gue sedang ngasih
tahu alamat atau sedang promo jual tumah
orang tua buat bayar hutang ke bandar kutang perawan yang sering nongkrong di
belakang sekolah dekat beringin.
“Cita-cita
kamu apa?,” Tanya pak joko lagi . ini pertanyaan yang sulit bagi gue, sialnya
gue belum sempat belajar. Kemarin gue udah beli buku “Bunga Rampai Cita-Cita
Anak Bangsa” tapi gue belum sempat baca. Gue raba saku celana buat cari
contekan. Gue sadar gue emang gak punya contekan.
“Jadi
guru pak,” Jawab gue tegas setelah dapat bisikan dari temen sebangku gue. Temen
yang entah manusia atau jin karena sukanya bisik-bisikan.
“Guru
apa?,”
“Biologi
pak!,” gue refleks menjawab Biologi karena saat itu di papan tulis tertulis
Biologi. Entah siapa yang menulis sampai saat ini gue gak tahu. Ternyata
ungkapan Ucapan adalah Do’a itu benar adanya. Hari itu Tuhan mencatat Cita-cita
gue dan mengabulkannya dengan meluluskan gue di Jurusan Pendidikan Biologi.
Jurusan buat calon guru biologi. Seandainya hari itu yang tertulis adalah
“Presiden” mungkin gue sekarang sudah punya 4 album lagu.
This is me, and it's my life.

gue masih inget, kuliah biologi dan waktu itu lo sempet ngasih liat gue gambar jamur hahaha.
BalasHapushahaha iya iya
Hapushahahaa... si anjing, yang terakhir ngehe mon
BalasHapussi anjing :|
Hapusditunggu cerita baru si mahasiswa sesat :) eh.. ntar jadi guru biologi sesat juga nggak ne?
BalasHapuswhahah calon guru biologi yang pandai mengocok perut melalui blognya, kebayang kalau nanti udah ngajar di kelas mungkin bukan kaya lagi belajar tapi semacam stand up comedy kali yah. mau dong jadi muridnya, hehehe
BalasHapus"Seandainya hari itu yang tertulis adalah “Presiden” mungkin gue sekarang sudah punya 4 album lagu. "
BalasHapus^^^
kalimat tertolol yang gue temuin ,wakakakakakak
ngoahahaha,,,, kayak pak beye gitu
Hapus