Minggu, 09 Juni 2013

MAMON SI MAHASISWA SESAT




Nama gue  Yahya Muhaimin tapi elo bisa manggil gue mamon. gue lahir  19 tahun yang lalu, di sebuah kampung yang bahkan namanya gak ada di peta Indonesia. Gue pernah coba cari di google map dan ternyata juga gak ada. Nama kampung gue Sri Wangi, gue tau lo pasti bayangin gue lahir dalam kotak teh. Gue gak sehina itu. 
Gue seorang Mahasiswa Pendidikan Biologi di salah satu Universitas Negeri di Pontianak. Gak perlu gue sebutin juga lo pasti tahu, soalnya di Pontianak universitas negerinya Cuma satu.Tragis.
Kuliah di Pendidikan Biologi sebenarnya bukan cita-cita gue. Saat  kecil gue sempat bercita-cita jadi bidan. Kita hanya bisa berkehendak dan Tuhanlah yang menentukan. Lulus SMA gue sadar  akademi kebidanan hanya untuk cewek, artinya gue gak bisa jadi bidan. Cita-cita gue kandas, gue hampir frustasi. Sempat  gue berpikir buat operasi kelamin, tapi menurut nenek gue biaya operasi kelamin sangat mahal, gue tahu penghasilan bokap sebagai PNS Cuma cukup buat makan. Kalau harus jual diri gue gak akan bisa. Soalnya harga diri gue terlalu mahal untuk dijual. Hanya artis sekelas Ketti Peri dan Paris Hilten yang mampu beli gue, itupun dengan uang muka yang udah di subsidi 30% dan cicilan selama 1000 bulan. Gue tambah frustasi.
Setelah dapat penawar dari dukun langganan nenek gue, akhirnya gue dapat menerima kenyataan. Kenyataan bahwa gue emang telalu mahal buat jual diri, ups.
Gue sendiri bingung kenapa gue terjebak di jurusan yang gak pernah gue cita-citain ini. Gue coba memutar kembali memori ke masa lalu, soalnya gue selalu ingat bahwa apa yang kita lakukan di masa lalu berdampak bagi apa yang kita alami sekarang. Jelas-jelas dulu guru fisika gue pernah nasehatin gue buat gak ngambil jurusan biologi karena jadi mahasiswa biologi akan sangat melelahkan. Seperti yang gue alami sekarang.

Ingatan gue kembali ke 4 tahun yang lalu, saat gue masih kelas 1 SMA. Gue ingat itu hari pertama masuk sekolah, hari saat gue masih ganteng. Bukan berarti sekarang gue gak ganteng. Maksud gue dulu gue ganteng dan sekarang sangat ganteng.
Hari itu wali kelas gue masuk ke kelas buat kenalan dengan calon murid-muridnya selama setahun yang akan datang. Wali kelas gue ini kabarnya terkenal killer di sekolah. Sebut saja namanya Pak Joko. Usianya sekitar 40 tahun, tinggi 165 cm, 36b. Nahlo.
“Yahya Muhaimin!,” pekiknya menyebut nama gue.
“Saya pak,” gue refleks ngangkat dua tangan.
“Saya sedang ngabsen, bukan sedang grebek. Turunin tangan kamu!,” Pak Joko mandangin gue dengan tatapan yang tajam. Jantung gue berdegub tak menentu, nang neng nong nang neng nong.
“Kamu asalnya darimana?,”
“Dari sini pak,”
“Maksud saya alamat rumah kamu,” Pak Joko mulai emosi. Wajahnya mulai merah merona. Sorry gue gak pandai milih diksi yang tepat buat ekspresi marah ini.
“Saya tak punya rumah,” Gue jawab seadanya
“Maksud kamu Gelandangan? Atau tinggal di panti asuhan?,”
“Saya tingal di rumah bapak saya pak. Saya belum mampu beli rumah sendiri,”. Seisi kelas tertawa terhabak-habak. (FYI: Terhabak-habak tingkat ketawanya dua kali lipat Terbahak-bahak). Air muka pak joko yang mulai tenang kembali berubah.
“iya alamat bapak kamu deh,” Pak joko mencoba menenangkan diri. Gue jawab pertanyaan itu dengan serius. Gue beritahu jalan dan gang gue, RT dan RW gue, nomor rumah gue,warna rumah gue,harga rumah gue, bahkan   lebar rumah gue dan tanahnya. Pak Joko kemudian bingung gue sedang ngasih tahu  alamat atau sedang promo jual tumah orang tua buat bayar hutang ke bandar kutang perawan yang sering nongkrong di belakang sekolah dekat beringin.
“Cita-cita kamu apa?,” Tanya pak joko lagi . ini pertanyaan yang sulit bagi gue, sialnya gue belum sempat belajar. Kemarin gue udah beli buku “Bunga Rampai Cita-Cita Anak Bangsa” tapi gue belum sempat baca. Gue raba saku celana buat cari contekan. Gue sadar gue emang gak punya contekan.
“Jadi guru pak,” Jawab gue tegas setelah dapat bisikan dari temen sebangku gue. Temen yang entah manusia atau jin karena sukanya bisik-bisikan.
“Guru apa?,”
“Biologi pak!,” gue refleks menjawab Biologi karena saat itu di papan tulis tertulis Biologi. Entah siapa yang menulis sampai saat ini gue gak tahu. Ternyata ungkapan Ucapan adalah Do’a itu benar adanya. Hari itu Tuhan mencatat Cita-cita gue dan mengabulkannya dengan meluluskan gue di Jurusan Pendidikan Biologi. Jurusan buat calon guru biologi. Seandainya hari itu yang tertulis adalah “Presiden” mungkin gue sekarang sudah punya 4 album lagu. 
This is me, and it's my life.

8 komentar:

  1. gue masih inget, kuliah biologi dan waktu itu lo sempet ngasih liat gue gambar jamur hahaha.

    BalasHapus
  2. hahahaa... si anjing, yang terakhir ngehe mon

    BalasHapus
  3. ditunggu cerita baru si mahasiswa sesat :) eh.. ntar jadi guru biologi sesat juga nggak ne?

    BalasHapus
  4. whahah calon guru biologi yang pandai mengocok perut melalui blognya, kebayang kalau nanti udah ngajar di kelas mungkin bukan kaya lagi belajar tapi semacam stand up comedy kali yah. mau dong jadi muridnya, hehehe

    BalasHapus
  5. "Seandainya hari itu yang tertulis adalah “Presiden” mungkin gue sekarang sudah punya 4 album lagu. "

    ^^^
    kalimat tertolol yang gue temuin ,wakakakakakak

    BalasHapus