Malam ini gue tiba-tiba kepikiran masa kecil gue. Gue ingat pertama kali gue suka sama cewek. Bukan berarti sebelumnya gue suka sama cowok sih.
Mengenai istilah
cinta monyet gue sendiri dulunya kurang paham. Dalam pikiran gue, cinta monyet
itu adalah jenis pacaran yang dilakukan dengan saling mencari kutu kemudian
memakannya. Kadang gue juga berpikir kalau cinta monyet itu adalah jenis cinta
yang ekpresinya dilakukan dengan bergelantungan di pohon sambil teriak-teriak
“I LOVE UUUUUUOOOOOOOOOOO”. Kalau perkiraan gue benar maka gue lebih setuju
cinta ini disebut cinta Tarzan.
Cinta
monyet pertama kali gue alamin pas gue umur 4 tahun. Sebagai seorang anak kecil
seharusnya gue menyesal karena terlalu cepat dewasa.
Dulu
di kampung ada seorang bidan yang didatangkan dari ibukota provinsi. Bu Bidan
cantik ini tinggal di puskesmas, letaknya tidak jauh dari rumah guru yang gue tempatin. Gue
cukup akarab sama si ibu bidan, tiap hari gue main ke puskesmas buat nemenin
atau entah ngeganggu si bidan.
Tunggu
dulu, cinta monyet pertama gue bukan si ibu bidan ini lho. Sehina-hinanya gue,
gue tak doyan sama wanita tua.
Waktu itu musim kemarau. Di kampung gue musim
kemarau itu sama dengan miniatur neraka, panas banget. Hanya anak kecil dengan
kemampuan super seperti gue aja yang nekat main di luar rumah. Yap! Gue emang
anak super, super budek gak mau dengerin nasihat orang tua. Saking bandelnya,
gue dikutuk jadi batu sama nyokap tiga hari sekali.
Si
ibu bidan sedang pulang kota. FYI aja, pulang kota adalah kebalikan dari pulang
kampung. Gue yang bermaksud buat main ke puskesmas akhirnya mutusin buat main
sepeda di sekitar puskesmas. Berhubung gue bukan Samson jadi gue main sepeda
dalam arti keliling-keliling pakai sepeda bukannya mainin sepeda dengan
dilempar dan ditangkap kemudian diseimbangin dengan meletakannya di atas hidung
pesek gue.
Berhubung
gue belum pandai pakai sepeda jadi sepeda gue yang mungil ini harus dipasang
dua roda bantu di kanan dan kirinya. Sialnya, niat gue buat keliling-keliling
salah diartiin sama sepeda kesayangan gue, salah satu roda bantunya tidak bisa
berputar. Akibatnya sekuat apapun gue goes, bukannya keliling-keliling
puskesmas malah sepeda gue tetap berputar-putar di tempat seperti motor bebek
yang dikunci setangnya.
Pas
lagi asyiknya main sepeda, tiba-tiba dua buah motor berhenti di depan
puskesmas. Sesosok wanita cantik turun dengan anggun sambil melepas
kacamatanya. Entah darimana angin tiba-tiba bertiup meniup rambut panjangnya.
Ini mirip adegan-adegan sinetron yang sering gue tonton di kantor kepala desa.
Adegan dilanjutkan dengan si wanita mengeluarkan tissue dari tasnya lalu
menyeka keringat di wajahnya. Cantik banget.
Wanita
ini adalah ibu bidan yang gue ceritain. Umurnya 20 tahunan, ukuran dada 36b,
upss.
Pandangan
gue beralih ke motor di belakangnya, seorang gadis muda tampak turun dari
motor. Wajahnya tak kalah ayu dengan si ibu bidan, bahkann dapat dikatakan
mirip. Kalau diliat sekilas gue bakal mengira ini adalah si ibu bidan yang di
fotokopi diperkecil.
Gadis
muda itu bernama Yuni, adik ibu bidan yang sedang libur kenaikan kelas. Katanya
dia akan libur dua minggu, gue seneng banget, rasanya seperti ketemu badut
akrobatis lalu terlempar ke antlantis dan tenggelam dengan miris dan tragis.
Lanjut ke ceritanya, atau semua ini akan menjadi semakin absurd.
Dua
minggu yang gue milikin buat deket dengan Yuni enggak gue sia-siain. Hidup gue
jadi monoton. Bangun pagi terus mandi kemudian main ke puskesmas. Siangnya
pulang buat makan siang abis itu pergi lagi ke puskesmas. Sorenya gue pulang
buat mandi dan main lagi ke puskesmas. Pas maghrib baru gue pulang dan enggak
balik lagi ke puskesmas. Sebagai anak kecil, gue tergolong anak yang posesif.
Bermacam-macam
hal gue lakuin ama Yuni, mulai dari mainin kura-kura yang dikasih sama tetangga
sampai main dokter-dokteran. Gue masih kecil jadi tak ada pikiran buat main nyubit
tetek, lagipula si Yuni masih kelas 5 SD, masih rata.
Sebagai
anak kecil dalam hubungan ini gue diuntungkan, usia gue yang belia membuat gak
ada jarak gue sama Yuni. Kalau gue nangis si yuni suka nenangin sambil meluk
gue, Entah kenapa pas dia meluk gue rasanya damai banget. Gue sekarang mikir
kalau gue udah mesum sejak dini.
Gak
berasa dua minggu kami lewatin bareng. Kenangan-kenangan indah terekam manis di
otak gue. Saatnya si Yuni buat balik ke kota. Inilah saat-saat yang paling
menyedihkan selama empat tahun hidup gue. Gue nangis kenceng banget dalam
pelukan nyokap gue. Yuni melambai sambil tersenyum kepada gue, atau entah
kepada kakaknya yang berdiri di samping nyokap gue. Tangis gue semakin
menjadi-jadi.
Sepeda
motor yang ditumpangi Yuni pun melaju dan menjauh. gue meloncat dari pelukan
nyokap, berlari melintasi ialang, menerobos semak-semak. Berlari secepat angin,
sayup gue dengar nyokap manggil nama gue.
Gue yang masih empat tahun terus
berlari tak peduli. Satu tujuan gue, gue pengen liat Yuni
sekali lagi, gue sedang memintas untuk memotong arah sepeda motor itu di
hilir kampung.
Dari
kejauhan tampak motor melaju, debu-debu beterbangan dari jalan tanah merah.
Kampung kami cukup terpencil, belum dicapai jalan aspal. Gue masih nangis
sambil berdiri di tengah jalan. Motor yang Yuni tumpangi berhenti di depan gue.
Yuni turun dan meluk gue. “Kamu jangan nangis lagi ya!,” hanya itu kalimat yang
keluar dari mulut Yuni. Gue berusaha menghapus air mata, Yuni tersenyum. Indah
sekali.
Yuni,
cinta monyet pertama gue. Cinta monyet adalah cinta yang paling tulus, karena
hanya cinta monyet yang benar-benar tidak membutuhkan balasan.
Dalam
biologi ada teori evolusi. Manusia berasal dari monyet. Tapi tidak semua monyet
berevolusi menjadi manusia. Dalam cinta ada cinta monyet dan tidak semua
cinta monyet itu berevolusi menjadi
cinta sejati. Akan tetap ada manusia yang terjebak dalam tubuh manusia dewasa
namun cintanya tetap cinta monyet.

pengalaman yang ajaib gan, psti akan selalu terkenang ama bidannya, ups salah , sama si yuni gitu, ckckck
BalasHapusslam blogger Indonesia
huahaha. entah sekarg dia udah jadi apa. :|
Hapuskunjungan perdana.
BalasHapuskesan : pas brightness LCD lagi maksimal, buka blog lo, mata gue jadi mak nyus. :D
jadi pengen ikutan posting kisah cinta monyet gue. hahaha
yoi kunjungan perdana juga gue.. LCD lagi maks , mata gue ter heran heran.. Blog lo seperti kopi sob.. bisa bikin tambah betaah melek
Hapusthanks atas kunjungannya. merah yang gue pilih terlalu menyala. tapi gak apa-apa kan selama pas baca fokus ke bagian putihnya,
Hapusudah mon lu fokus di blog ini aja. hahaha...
BalasHapusiya kayaknya fokus ke sini.
Hapuswow bener2 absurd banget jatuh cinta umur 4 tahun ya ampun.
BalasHapusbaca postingan ini sambil maskeran doh nahan2 ketawa takut rusak masker gue :(
gue juga gak ngerti. umur 4 tahun kok jatuh cinta
Hapusitu paragraf terakhirnya bagus :)
BalasHapuskira-kira udah gimana si Yuni sekarang ya? hahaha
mungkin si Yuni udah nikah dan punya 5 anak. bodynya udah kendor.
Hapus