Senin, 10 Juni 2013

CERITA CINTA MONYET




Malam ini gue tiba-tiba kepikiran masa kecil gue. Gue ingat pertama kali gue suka sama cewek. Bukan berarti sebelumnya gue suka sama cowok sih. 
Mengenai istilah cinta monyet gue sendiri dulunya kurang paham. Dalam pikiran gue, cinta monyet itu adalah jenis pacaran yang dilakukan dengan saling mencari kutu kemudian memakannya. Kadang gue juga berpikir kalau cinta monyet itu adalah jenis cinta yang ekpresinya dilakukan dengan bergelantungan di pohon sambil teriak-teriak “I LOVE UUUUUUOOOOOOOOOOO”. Kalau perkiraan gue benar maka gue lebih setuju cinta ini disebut cinta Tarzan.

Cinta monyet pertama kali gue alamin pas gue umur 4 tahun. Sebagai seorang anak kecil seharusnya gue menyesal karena terlalu cepat dewasa.
Dulu di kampung ada seorang bidan yang didatangkan dari ibukota provinsi. Bu Bidan cantik ini tinggal di puskesmas, letaknya tidak  jauh dari rumah guru yang gue tempatin. Gue cukup akarab sama si ibu bidan, tiap hari gue main ke puskesmas buat nemenin atau entah ngeganggu si bidan.
Tunggu dulu, cinta monyet pertama gue bukan si ibu bidan ini lho. Sehina-hinanya gue, gue tak doyan sama wanita tua.
 Waktu itu musim kemarau. Di kampung gue musim kemarau itu sama dengan miniatur neraka, panas banget. Hanya anak kecil dengan kemampuan super seperti gue aja yang nekat main di luar rumah. Yap! Gue emang anak super, super budek gak mau dengerin nasihat orang tua. Saking bandelnya, gue dikutuk jadi batu sama nyokap tiga hari sekali.
Si ibu bidan sedang pulang kota. FYI aja, pulang kota adalah kebalikan dari pulang kampung. Gue yang bermaksud buat main ke puskesmas akhirnya mutusin buat main sepeda di sekitar puskesmas. Berhubung gue bukan Samson jadi gue main sepeda dalam arti keliling-keliling pakai sepeda bukannya mainin sepeda dengan dilempar dan ditangkap kemudian diseimbangin dengan meletakannya di atas hidung pesek gue.
Berhubung gue belum pandai pakai sepeda jadi sepeda gue yang mungil ini harus dipasang dua roda bantu di kanan dan kirinya. Sialnya, niat gue buat keliling-keliling salah diartiin sama sepeda kesayangan gue, salah satu roda bantunya tidak bisa berputar. Akibatnya sekuat apapun gue goes, bukannya keliling-keliling puskesmas malah sepeda gue tetap berputar-putar di tempat seperti motor bebek yang dikunci setangnya.
Pas lagi asyiknya main sepeda, tiba-tiba dua buah motor berhenti di depan puskesmas. Sesosok wanita cantik turun dengan anggun sambil melepas kacamatanya. Entah darimana angin tiba-tiba bertiup meniup rambut panjangnya. Ini mirip adegan-adegan sinetron yang sering gue tonton di kantor kepala desa. Adegan dilanjutkan dengan si wanita mengeluarkan tissue dari tasnya lalu menyeka keringat di wajahnya. Cantik banget.

 
Wanita ini adalah ibu bidan yang gue ceritain. Umurnya 20 tahunan, ukuran dada 36b, upss.
Pandangan gue beralih ke motor di belakangnya, seorang gadis muda tampak turun dari motor. Wajahnya tak kalah ayu dengan si ibu bidan, bahkann dapat dikatakan mirip. Kalau diliat sekilas gue bakal mengira ini adalah si ibu bidan yang di fotokopi diperkecil.
Gadis muda itu bernama Yuni, adik ibu bidan yang sedang libur kenaikan kelas. Katanya dia akan libur dua minggu, gue seneng banget, rasanya seperti ketemu badut akrobatis lalu terlempar ke antlantis dan tenggelam dengan miris dan tragis. Lanjut ke ceritanya, atau semua ini akan menjadi semakin absurd.
Dua minggu yang gue milikin buat deket dengan Yuni enggak gue sia-siain. Hidup gue jadi monoton. Bangun pagi terus mandi kemudian main ke puskesmas. Siangnya pulang buat makan siang abis itu pergi lagi ke puskesmas. Sorenya gue pulang buat mandi dan main lagi ke puskesmas. Pas maghrib baru gue pulang dan enggak balik lagi ke puskesmas. Sebagai anak kecil, gue tergolong anak yang posesif.
Bermacam-macam hal gue lakuin ama Yuni, mulai dari mainin kura-kura yang dikasih sama tetangga sampai main dokter-dokteran. Gue masih kecil jadi tak ada pikiran buat main nyubit tetek, lagipula si Yuni masih kelas 5 SD, masih rata.
Sebagai anak kecil dalam hubungan ini gue diuntungkan, usia gue yang belia membuat gak ada jarak gue sama Yuni. Kalau gue nangis si yuni suka nenangin sambil meluk gue, Entah kenapa pas dia meluk gue rasanya damai banget. Gue sekarang mikir kalau gue udah mesum sejak dini.
  
Gak berasa dua minggu kami lewatin bareng. Kenangan-kenangan indah terekam manis di otak gue.  Saatnya si Yuni buat balik ke kota. Inilah saat-saat yang paling menyedihkan selama empat tahun hidup gue. Gue nangis kenceng banget dalam pelukan nyokap gue. Yuni melambai sambil tersenyum kepada gue, atau entah kepada kakaknya yang berdiri di samping nyokap gue. Tangis gue semakin menjadi-jadi.
Sepeda motor yang ditumpangi Yuni pun melaju dan menjauh. gue meloncat dari pelukan nyokap, berlari melintasi ialang, menerobos semak-semak. Berlari secepat angin, sayup gue dengar nyokap manggil nama gue.  Gue  yang masih empat tahun terus berlari tak peduli. Satu tujuan gue, gue pengen   liat Yuni  sekali lagi, gue sedang memintas untuk memotong arah sepeda motor itu di hilir kampung.
Dari kejauhan tampak motor melaju, debu-debu beterbangan dari jalan tanah merah. Kampung kami cukup terpencil, belum dicapai jalan aspal. Gue masih nangis sambil berdiri di tengah jalan. Motor yang Yuni tumpangi berhenti di depan gue. Yuni turun dan meluk gue. “Kamu jangan nangis lagi ya!,” hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Yuni. Gue berusaha menghapus air mata, Yuni tersenyum. Indah sekali.
Yuni, cinta monyet pertama gue. Cinta monyet adalah cinta yang paling tulus, karena hanya cinta monyet yang benar-benar tidak membutuhkan balasan. 
Dalam biologi ada teori evolusi. Manusia berasal dari monyet. Tapi tidak semua monyet berevolusi menjadi manusia. Dalam cinta ada cinta monyet dan tidak semua cinta  monyet itu berevolusi menjadi cinta sejati. Akan tetap ada manusia yang terjebak dalam tubuh manusia dewasa namun cintanya tetap cinta monyet.

11 komentar:

  1. pengalaman yang ajaib gan, psti akan selalu terkenang ama bidannya, ups salah , sama si yuni gitu, ckckck
    slam blogger Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. huahaha. entah sekarg dia udah jadi apa. :|

      Hapus
  2. kunjungan perdana.

    kesan : pas brightness LCD lagi maksimal, buka blog lo, mata gue jadi mak nyus. :D

    jadi pengen ikutan posting kisah cinta monyet gue. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoi kunjungan perdana juga gue.. LCD lagi maks , mata gue ter heran heran.. Blog lo seperti kopi sob.. bisa bikin tambah betaah melek

      Hapus
    2. thanks atas kunjungannya. merah yang gue pilih terlalu menyala. tapi gak apa-apa kan selama pas baca fokus ke bagian putihnya,

      Hapus
  3. udah mon lu fokus di blog ini aja. hahaha...

    BalasHapus
  4. wow bener2 absurd banget jatuh cinta umur 4 tahun ya ampun.
    baca postingan ini sambil maskeran doh nahan2 ketawa takut rusak masker gue :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue juga gak ngerti. umur 4 tahun kok jatuh cinta

      Hapus
  5. itu paragraf terakhirnya bagus :)
    kira-kira udah gimana si Yuni sekarang ya? hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin si Yuni udah nikah dan punya 5 anak. bodynya udah kendor.

      Hapus